Tampilkan postingan dengan label nusantara. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label nusantara. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 11 November 2017

SMAN 16 KONSEL MENDAPAT KUCURAN DAK TAHUN 2017




Laporan – Edison
Wartawan Tabloid Indonesia Jaya

KONSEL -  upaya pemerintah Pusat dalam menyediakan saran dan prasarana belajar di setiap Sekolah terus dilakukan, sebagai perhatian  pada setiap satuan Pendidikan dalam rangka percepatan pembangunan sehingga setara dengan stuan pendidikan lainnya di seluruh Nusantara, hal ini merupakan tindakan nyata  terhadap pendidikan untuk memberikan kelengkapan belajar yang dibutuhkan, seperti pada pembangunan yang saat ini tengah berjalan pengerjaannya.

Yang salah satuhnya adalah pembangunan Gedung baru pada SMAN 16 Konsel, di Desa Basala, Kec. Basala, Kab. Konawe Selatan, Sultra, yang sumber danahnya dari APBN dan diperuntukan pada pembangunan satu Gedung baru, yang terdiri dari dua Ruang Kelas Belajar (RKB ) dalam program DAK Dinas Pendidikan Provinsi Sulawesi Tenggara, dengan dikerjakan melalui sewakelola oleh Kepala Sekolah setempat.

Sebagaimana yang dismpaikan oleh Kepsek SMAN 16 Konsel, yang ditemui di Ruang kerjanya oleh Awak Media ini mengatakan bahwa " pembangunan gedung RKB ini merupakan Program Pemerintah Pusat, melalui dinas pendidikan provinsi Sulawesi Tenggara, yang menelan biaya sebanyak Rp. 378.460.000.00, dari APBN serta Tambahan swadaya orang tua Siswa sebany             ak Rp. 15.000.000.00, yang merupakan program DAK " ucap SaharuddinS, pd, M, pd

Lanjut Kepsek " program ini sebagai pemenuhan sarana belajar siswa, sehingga proses pembelajaran dapat berjalan dengan baik, hal ini kami sangat apresiasi pada pemerintah pusat melalui perpanjang tangannya di Daerah, dalam hal ini Dinas pendidikan Provinsi Sulawesi Tenggara " terangnya

" Ia juga menambahkan bahwa kebutuhan akan sarana belajar siswa sudah memadai, namun masi ada juga kebutuhan prioritas yang sipatnya mendesak yakni belum adanya Ruang Guru dan Kantor serta Pagar pembatas antara halaman Sekolah dengan pemukiman Warga, jumlah siswa 350, guru PNS 9 Orang serta gtt 11 orang juga 5 orang Stap " kata Saharuddin
( Edison )

Kamis, 26 Oktober 2017

UPACARA PENUTUPAN TNI MANUNGGAL MEMBANGUN DESA(TMMD) KE-100 TAHUN 2017




Laporan : Edison
Wartawan Tabloid Indonesia Jaya

KONSEL - Merujuk pada Undang-undang Nomor 34 Tahun 2004 tentang  Tentara Nasional Indonesia dan Undang-undang nomor 15 tahun  1997 tentang keimigrasian,  pada dasarnya  tidak ada pengaturan secara eksplisit  dan khusus  mengenai  keterlibatan  TNI  dalam program transmigrasi.
TNI manunggal membangun  desa (TMMD) adalah salah satu wujud operasi Bhakti TNI, yang merupakan program terpadu  lintas sektoral  antara TNI  dengan  departemen,  lembaga departemen non departemen  dan pemerintah  daerah  serta komponen bangsa lainnya,  yang dilaksanakan secara terintegrasi bersama masyarakat,  guna meningkatkan  akselerasi kegiatan pembangunan di daerah pedesaan,  khususnya  daerah  yang tergolong  tertinggal,  terisolasi,  perbatasan  dan daerah kumuh perkotaan  serra daerah lain yang  terkena  dampak akibat bencana. 
Maka dari itu  tepatnya dilapangan  sepak bola (26/10/2017) desa Sandarsi Jaya kecamatan Angata kabupaten  Konawe Selatan provinsi Sulawesi Tenggara dilakukan acara penutupan TNI manunggal membangun desa (TMMD)  ke-100 tahun 2017.
Yang dihadiri langsung oleh Letkol. Kav. Ekoo Hermawan Yuniarso. SIP Dandin 1417/Kendari,  Kolonel. Inf. H Andi Perdana  Kahar, SH Danrem 143/HO,  Mayjend TNI Agus Surya Bakti Pangdam XIV/Hasanuddin,  plt Gubernur Sultra H. M Saleh Lasata, Bupati Konawe Selatan (H.Surunuddin Dangga,ST.MM), Wakil Bupati ( Dr. H. Arsalim Arifin, SE.,M.Si), ketua DPRD  Konsel (Irham Kalenggo, S. Sos, M.Si) Dr. kombes  Winarto S. ik Wakapolda Sultra, camat Angata (Nunti Safri S.Sos), Kapolsek Angata (Iptu Muslimin),Danramil Landono 1417-15/Landono (Kap.Inf.Syaifudin), Kapolsek Landono (Iptu Trimo Mustafa), Kajari Konawe Selatan, camat Mowila (Muh.Sustanto Tawulo,SH.MH), camat Landono(Ambolaa,S.Sos.,M.Si), camat Sabulakoa (Lanay,S.Sos), kepala desa Sandarsi Jaya(Sunandar) beserta para kepala desa sekecamatan Angata.
Acara ini dirangkaikan dengan pemberian hadiah berupa uang tunai kepada pemenang perlombaan sepak bola yang dimenangkan desa Amotowo( kepala desa Haludin)sebagai juara pertama, kemudian juara kedua dimenangkan desa Wonuakoa(kepala desa Habe), juara ketiga dimenangkan oleh desa Mataiwoi (Plt Alimain.SE), juara keempat kelurahan Landono(yang mewakili Junaid,SH).
Adapun pembangunan yang dilakukan di dua kecamatan tersebut dengan biaya sebesar Rp.1.300.000.000,- diambil dari anggaran APBD kabupaten Konawe Selatan yaitu pembangunan Rumah Aladin sebanyak 36 unit desa Sabulako kecamatan Sabulakoa kabupaten Konawe Selatan dan pembangunan masjid ukuran 18x18 meter di desa Sandarsih Jaya kecamatan Angata kabupaten Konawe Selatan. Dengan kekuatan personel TNI gabungan 100 orang, Polri 10 orang, Instansi terkait 12 orang serta masyarakat 75 orang pelaksanaan pembangunan tersebut sudah selesai 100% .
Diharapkan dengan adanya kegiatan ini dapat mempererat kebersamaan  antara masyarakat dan TNI, karena TNI berasal dari rakyat dan untuk rakyat sehingga semua harus saling bersinergi agar terwujud"Bersama rakyat TNI kuat".
Edison

Rabu, 25 Oktober 2017

SOSIALISASI PELAYANAN PERIZINAN DAN NON PERIZINAN




Laporan : Edison
Wartawan Tabloid Indonesia Jaya

KONSEL- Usaha diartikan  secara general,  yakni usaha merupakan  setiap  aktivitas  yang  dilakukan  manusia  untuk  mendapatkan apa yang  diinginkan.  Kemudian  penjelasan lain tentang  usaha merupakan suatu  kegiatan  yang dilakukan  dengan  tujuan  memperoleh  hasil  berupa  keuntungan,  upah atau laba usaha.
Berangkat dari penjelasan  diatas maka untuk memudahkan  dan mengembangkan usaha-usaha yang  ada di masyarakat  maka tentunya  harus  memiliki  surat perizinan dari PTSP(pelayanan terpadu  satu  pintu).
Hal tersebut  yang  dilakukan di desa Mowila kecamatan  Mowila kabupaten  Konawe Selatan provinsi Sulawesi Tenggara (25/10/2017) bertempat di Aula kecamatan  Mowila. Dalam rangka mensosialisasikan pelayanan perizinan dan non perizinan.
Kegiatan tersebut  dihadiri  oleh camat Mowila(Muh. Sustanto.SH.,MH), kadis perizinan  (Hasbi. SH), Kapospol Mowila serta para kepala desa se-kecamatan Mowila dan hadir pula para pelaku usaha/masyarakat.
Setiap  usaha kecil yang dikelola oleh  seorang pengusaha  selalu akan menghadapi  berbagai  bentuk komunikasi  atau  hubungan dengan  orang lain atau institusi.
Sehingga sesuai Perbup No. 7 tentang pelimpahan kewenangan kepada kepala badan perizinan untuk izin yang beretribusi yakni izin gangguan (HO), izin mendirikan bangunan, izin perikanan, izin trayek, izin minuman beralkohol.
Dalam wawancara yang dilakukan wartawan Indonesia Jaya kepada kadis perizinan (Hasbi)  mengungkapkan  manfaat  dari izin usaha  tersebut  diantaranya (1) sebagai sarana  perlindungan hukum,  (2) sebagai syarat  dalam  kegiatan yang sifatnya menunjang perkembangan usaha, (3) sebagai sarana promosi dan meningkatkan kredibilitas usaha.
Edison

Minggu, 22 Oktober 2017

KEDEPANKAN PEMBANGUNAN YANG MENDASAR BAGI KEPENTINGAN MASYARAKAT DESA SABULAKOA



Laporan : Edison
Wartawan Tabloid Indonesia Jaya

KONSEL -  Pembangunan secara umum pada hakekatnya adalah proses pertumbuhan yang terus menerus untuk menuju keadaan yang lebih baik berdasarkan norma-norma tertentu. Pembangunan adalah seperangkat usaha yang terencana dan terarah dalam menghasilkan sesuatu yang dapat dimanfaatkan dalam memenuhi kebutuhan dan meningkatkan kesejahteraan hidup manusia.
Desa Sabulakoa adalah salah satu desa yang terdapat di Kecamatan Sabulakoa, Kabupaten Konawe Selatan, Provinsi Sulawesi Tenggara merupakan desa yang  sedang giat-giatnya  melakukan pembangunan. Apalagi desa ini adalah merupakan wilayah kecamatan pemekaran  baru.  Jadi wajar apabila desa-desa yang berada di Kecamatan Sabulakoa ini berlomba-lomba untuk membangun desanya.
Dana desa adalah anggaran yang dikucurkan dari pemerintah untuk pembangunan desa. Dana ini bersumber dari APBN(Anggaran Pendapatan Belanja Negara). Dana desa yang diterima desa untuk pembangunan adalah dana yang dikucurkan bagi desa dari pusat untuk pembangunan didesa supaya tercipta desa yang lebih baik, lebih maju, terutama dalam meningkatkan perekonomian masyarakat desa karena dana desa bertujuan memberikan sarana atau prasarana hingga masyarakat desa bisa terbantu meningkatkan perekonomiannya.
Kepala Desa Sabulakoa, Robin bersama ketua TPK (Samin) mengungkapkan, Dana Desa tahun anggaran 2017 diperuntukkan untuk jenis pekerjaan renovasi rumah tidak layak huni sebanyak 12 unit dengan anggaran Rp. 280.000.000. Pembangunan drainase sepanjang 360 meter dengan anggaran Rp.169.843.000. Peningkatan jalan usaha tani anggaran sepanjang 700 meter dengan Rp. 163.722.000. Pembangunan deuker plat 1 unit anggaran Rp. 31.642.000,-  dengan jumlah Dana Desa  sebesar Rp.697.631.000 dan pembangunan ini adalah tahap I sudah 60 % yang akan berlanjut nantinya untuk tahap II.

Senin, 24 Oktober 2016

Desa Onu “Bangkit melangkah menuju Perubahaan Dan “Berbuat Baik Untuk Perubahan”




SIGI -Sejarah Dan Asal usul Desa Onu berasal dari bahasa UMA TOBAKU yang berarti “Asap Api”.Latar belakang terbentuknya Desa Onu,pada zaman Raja raja wilayah yang akhirnya disebut Desa Onu adalah Hutan bagian dari wilayah kerajaan (Maradika)Tobaku.Hutan Tersebut sangat strategis dijadikan sasaran para pemburu binatang liar seperti anoa,rusa,dan babi hutan.Suatu ketika Raja (Mardika) Tobaku memerintahkan para pemburu (seluruhnya)dari suku uma tobaku salah satunya bernama SEMPA untuk berburu dihutan tersebut.Lalu pemburu tersebut melakukan perintah dan setibanya dilikasi itu,mereka membakar dan melebur batu untuk dijadikan alat senjata berburu (Tombak).Asap api yang membakar batu itu menjadi tebal dan berfgumpal naik ke awan hingga terlihat dari daerah kerajaan (Mardika) yang lainnya sehingga asap tersebut menutupi hutan sekitar tempat ini.
Setelah sekian kalinya para pemburu tersebut berburu ditempat itu,mereka mulai mengenal bahwa wilayah itu sangat subur untuk di jadikan lahan kebun untuk ditanami tanam padi,jagung dan tanaman lainnya hingga mereka mendapat izin dari raja (Maradika) Tobaku untuk tinggal diwilayah itu,setelah mereka bertempat tinggal tetap lalu mereka memberi nama tempat itu ONU (Nara sumber) : Nta”a (alm) iniliah sekelumit sejarah yang di bacakan oleh Kepala Desa Onu Yonas T Roru
Saat ditemui media ini pekan lalu di di desa Onu Kecamatan Pipikoro Kabupaten Sigi Sulawesi Tengah N  Kades Yonas T Roru mengatakan batas desa kami berbatasan langsung dengan hutan adat,dan hasil utama kami hanya mengandalkan persawahaan yang tidak seberapa luas serta padi ladang yang luasnya kurang lebih lima hektar,ada juga penghasilan lain yakni coklat dan kopi kata Yonas.
Untuk itu saya sebagai Kades tetap menjalankan roda pemerintahaan sesuai dengan Visi,misi serta undang undang berlaku,harapan saya dengan Terpilihnya Bupati yang baru adalah “melangkah menuju perubahaan” Ungkap Yonas dengan nada positif.
Untuk Dana Desa (DD) dan ADD sampai saat ini sudah dijalankan yakni fisik Rabat jalan yang menghubungkan antar desa serta pekerjaan Deucker tegas Yonas.
Ditemui ditempat terpisah  sekdes Onu Meydarto mengatakan sebenarnya luas dari persawahaan sesungguhnya 197 Hektar tetapi yang tidak di lewati air atau menunggu tada hujan sekitar 70 Hektar,Penyebabnya karena Irigasi yang kami buat secara manual dengan memakai bambu dan memacul langsung sehingga tidak semua sawah teraliri kata Meydarto.
Ada tempat air atau pengairan tapi letaknya sangat jauh untuk kami berharap kepada pemerintah pusat dan daerah untuk memperhatikan kami di desa ini,dan kami sudah usulkan program masalah pengairan ini di BBJMD bahkan Musrenbang mudah mudahan bisa di sahuti oleh pemerintah,karena hal ini sudah lama saya ajukan Jelas Meydarto.
Dengan satu semboyan Kami “Bangkit melangkah menuju Perubahaan “Berbuat Baik Untuk Perubahan”(lompe Ta Babbehi Lompe Tarata) (Djoni Salumpana)
Gambar sisip 1
Kepala Desa Onu dan Warganya.


Desa Lone Basa Dusun Ntolumanu
Sigi-Indonesia Jaya-Desa Lonebasa  Kecamatan Pipikoro Kabupaten Sigi Sulawesi Tengah merupakan salah satu Desa yang yang memiliki tiga dusun dan memiliki 236 KK.Salah satu dusun adalah Ntolumanu yang memiliki 67 KK dengan jumlah penduduk dari bayi sampai orang tuanya berjumlah 235 Jiwa Hal ini di jelaskan oleh kepala dusun Ntolumanu Demas N lanca
“Jarak tempuh dusun Ntolumanu ke ibukota kecamatan sekitar 18 KM dan jalan yang dilewati sangatlah Extrim melewati tebing yang tinggi serta curam dan jembatan gantung sungai lariang yang sangat membahayakan” Kata Demas
“Hasil pertanian dan perkebunan hanya mengandalkan coklat sedangkan untuk makan hanya mengharapakan padi ladang itu pun kalau jadi,Selain padi Untuk makan mereka mengandalkan Jagung putih atau jagung pulut untuk di konsumsi sehari hari” ungkap Demas
Keluhan warga masyarakat  didesa ini sangatlah komplit terutama mengenai Air bersih,Mandi Cuci Kakus (MCK) ungkap  Papa Adi (So) salah seorang warga. 
Untuk berobat pun sangat jauh kami disini sangat membutuhkan Pusat Kesehatan atau pustu,disekolahpun tidaka ada kamar mandinya kata Paulus.
Dan selama kami berada di desa ini belum tersentuh bantuan  Bedah rumah sama sekali lanjut Sarkus.
Oleh karena itu kami sangat perlu mendapat perhatian dari Pemerintah Pusat dan Daerah maupun pemda setempat tutup kepala dusun.(Djoni Salumpana)

Gambar sisip 2
 warga desa Lonebasa Dusun Ntolumanu

Warga Pipikoro Mengeluhkan Jalan Poros Tengah,Peana-Kalamanta.
Sigi-Indonesia Jaya-Jalan Poros Tengah Kecamatan Pipikora yang Menghubungkan antara desa-desa di sekitarnya banyak di keluhkan oleh warga sekitarnya.Jalan yang yang di rintis mulai dari desa peana ibukota kecamatan Pipikoro sampai dengan Desa Kalamanta dengan melewati desa Pelempea,Mapahi,Banasu,Masewo dan mamu.
Rintisan Jalan poros tengah Pipikoro ini pernah di kerjakan oleh pihak ke tiga namun hasilnya “sangat Tidak memuaskan”.Dari hasil wawancara dengan Warga masyarakat di sekitar desa rata rata mengeluhkan pembukaan jalan baru tersebut.
Menurut warga setempat pekerjaan jalan ini tidak sesuai dengan apa yang pernah di survey dari pihak PU,Kalau Jalan yang di ukur pihak PU tujuannya supaya layak dipakai,bisa ditempuh kendaraan dan di lewati masyarakat.Tapi sekarang modelnya lain, karena mau cepat selesai, terpaksa mereka potong kompas sehingga mengurangi volumenya kata salah seorang warga yang tidak mau namanya di korankan.
“Yang terparah dan sama sekali tidak bisa di lewati oleh motor yakni mulai dari desa Banasu sampai dengan Kalamanta,jalannya tidak dilindas  Bomag.Apalagi yang di desa Masewo sampai kalamanta lebarnya hanya 3M seharusnya 8M ungkap warga yang lain.
“Untuk itu kami sebagai warga masyarakat Pipikoro mengharapkan perhatian penuh dari pihak pihak yang berkepentingan dalam hal ini terutama pihak ke-3 yang mengerjakan pembukaan jalan ini,agar kami bisa menggunakan dan mengangkut hasil bumi kami,kalau pekerjaan begini bagaimana bisa ungkap warga.
‘Masa proyek 21 M hasilnya seperti begini,seharusnya lebih bagus,jalannya makin lama makin kecil kalau di desa Peana sampai di Banasu lebarnya 8M tapi dari Desa Banasu sampi Ke Kalamanta tinggal 3 Meter,begitu juga dengan jembatan padahal ada di bangun jembatan kayu untuk akses mobil tapi hanya sedikit di bikin jembatannya kata warga.
“Lebih bagus jalan yang dulu di banding yang di kejakan saat ini,kalau dulu semua pendakian bisa di tempuh dengan naik motor sedangkan yang sekarang sama sekali tidak bisa di lewati pendakiannya,ada beberapa titik salah satunya pendakian dari air Mamu ke kalamanta dan masih ada lagi titik lainnya.Jadi dalam hal ini masyarakat tidak merasa puas dengan pembukaan jalan poros tengah pipikoro yang menelan anggaran kurang lebih 21 M tahun lalu ini kata warga masyarakat. (dJ.S)