SIGI -Sejarah Dan Asal usul Desa Onu
berasal dari bahasa UMA TOBAKU yang berarti “Asap Api”.Latar belakang
terbentuknya Desa Onu,pada zaman Raja raja wilayah yang akhirnya disebut Desa
Onu adalah Hutan bagian dari wilayah kerajaan (Maradika)Tobaku.Hutan Tersebut
sangat strategis dijadikan sasaran para pemburu binatang liar seperti
anoa,rusa,dan babi hutan.Suatu ketika Raja (Mardika) Tobaku memerintahkan para
pemburu (seluruhnya)dari suku uma tobaku salah satunya bernama SEMPA untuk
berburu dihutan tersebut.Lalu pemburu tersebut melakukan perintah dan setibanya
dilikasi itu,mereka membakar dan melebur batu untuk dijadikan alat senjata
berburu (Tombak).Asap api yang membakar batu itu menjadi tebal dan berfgumpal
naik ke awan hingga terlihat dari daerah kerajaan (Mardika) yang lainnya
sehingga asap tersebut menutupi hutan sekitar tempat ini.
Setelah sekian kalinya para pemburu
tersebut berburu ditempat itu,mereka mulai mengenal bahwa wilayah itu sangat
subur untuk di jadikan lahan kebun untuk ditanami tanam padi,jagung dan tanaman
lainnya hingga mereka mendapat izin dari raja (Maradika) Tobaku untuk tinggal
diwilayah itu,setelah mereka bertempat tinggal tetap lalu mereka memberi nama
tempat itu ONU (Nara sumber) : Nta”a (alm) iniliah sekelumit sejarah yang di
bacakan oleh Kepala Desa Onu Yonas T Roru
Saat ditemui media ini pekan lalu di
di desa Onu Kecamatan Pipikoro Kabupaten Sigi Sulawesi Tengah N Kades
Yonas T Roru mengatakan batas desa kami berbatasan langsung dengan hutan
adat,dan hasil utama kami hanya mengandalkan persawahaan yang tidak seberapa
luas serta padi ladang yang luasnya kurang lebih lima hektar,ada juga
penghasilan lain yakni coklat dan kopi kata Yonas.
Untuk itu saya sebagai Kades tetap
menjalankan roda pemerintahaan sesuai dengan Visi,misi serta undang undang
berlaku,harapan saya dengan Terpilihnya Bupati yang baru adalah “melangkah
menuju perubahaan” Ungkap Yonas dengan nada positif.
Untuk Dana Desa (DD) dan ADD sampai
saat ini sudah dijalankan yakni fisik Rabat jalan yang menghubungkan antar desa
serta pekerjaan Deucker tegas Yonas.
Ditemui ditempat terpisah sekdes
Onu Meydarto mengatakan sebenarnya luas dari persawahaan sesungguhnya 197
Hektar tetapi yang tidak di lewati air atau menunggu tada hujan sekitar 70
Hektar,Penyebabnya karena Irigasi yang kami buat secara manual dengan memakai
bambu dan memacul langsung sehingga tidak semua sawah teraliri kata Meydarto.
Ada tempat air atau pengairan tapi
letaknya sangat jauh untuk kami berharap kepada pemerintah pusat dan daerah
untuk memperhatikan kami di desa ini,dan kami sudah usulkan program masalah
pengairan ini di BBJMD bahkan Musrenbang mudah mudahan bisa di sahuti oleh
pemerintah,karena hal ini sudah lama saya ajukan Jelas Meydarto.
Dengan satu semboyan Kami “Bangkit
melangkah menuju Perubahaan “Berbuat Baik Untuk Perubahan”(lompe Ta Babbehi
Lompe Tarata) (Djoni Salumpana)

Kepala Desa Onu dan Warganya.
Desa Lone Basa Dusun Ntolumanu
Sigi-Indonesia Jaya-Desa
Lonebasa Kecamatan Pipikoro Kabupaten Sigi Sulawesi Tengah merupakan
salah satu Desa yang yang memiliki tiga dusun dan memiliki 236 KK.Salah satu
dusun adalah Ntolumanu yang memiliki 67 KK dengan jumlah penduduk dari bayi
sampai orang tuanya berjumlah 235 Jiwa Hal ini di jelaskan oleh kepala dusun
Ntolumanu Demas N lanca
“Jarak tempuh dusun Ntolumanu ke
ibukota kecamatan sekitar 18 KM dan jalan yang dilewati sangatlah Extrim
melewati tebing yang tinggi serta curam dan jembatan gantung sungai lariang
yang sangat membahayakan” Kata Demas
“Hasil pertanian dan perkebunan
hanya mengandalkan coklat sedangkan untuk makan hanya mengharapakan padi ladang
itu pun kalau jadi,Selain padi Untuk makan mereka mengandalkan Jagung putih
atau jagung pulut untuk di konsumsi sehari hari” ungkap Demas
Keluhan warga masyarakat
didesa ini sangatlah komplit terutama mengenai Air bersih,Mandi Cuci Kakus
(MCK) ungkap Papa Adi (So) salah seorang warga.
Untuk berobat pun sangat jauh kami
disini sangat membutuhkan Pusat Kesehatan atau pustu,disekolahpun tidaka ada
kamar mandinya kata Paulus.
Dan selama kami berada di desa ini
belum tersentuh bantuan Bedah rumah sama sekali lanjut Sarkus.
Oleh karena itu kami sangat perlu
mendapat perhatian dari Pemerintah Pusat dan Daerah maupun pemda setempat tutup
kepala dusun.(Djoni Salumpana)

warga desa Lonebasa Dusun
Ntolumanu
Warga Pipikoro Mengeluhkan Jalan
Poros Tengah,Peana-Kalamanta.
Sigi-Indonesia Jaya-Jalan Poros
Tengah Kecamatan Pipikora yang Menghubungkan antara desa-desa di sekitarnya
banyak di keluhkan oleh warga sekitarnya.Jalan yang yang di rintis mulai dari
desa peana ibukota kecamatan Pipikoro sampai dengan Desa Kalamanta dengan
melewati desa Pelempea,Mapahi,Banasu,Masewo dan mamu.
Rintisan Jalan poros tengah Pipikoro
ini pernah di kerjakan oleh pihak ke tiga namun hasilnya “sangat Tidak
memuaskan”.Dari hasil wawancara dengan Warga masyarakat di sekitar desa rata
rata mengeluhkan pembukaan jalan baru tersebut.
Menurut warga setempat pekerjaan
jalan ini tidak sesuai dengan apa yang pernah di survey dari pihak PU,Kalau
Jalan yang di ukur pihak PU tujuannya supaya layak dipakai,bisa ditempuh
kendaraan dan di lewati masyarakat.Tapi sekarang modelnya lain, karena mau
cepat selesai, terpaksa mereka potong kompas sehingga mengurangi volumenya kata
salah seorang warga yang tidak mau namanya di korankan.
“Yang terparah dan sama sekali tidak
bisa di lewati oleh motor yakni mulai dari desa Banasu sampai dengan
Kalamanta,jalannya tidak dilindas Bomag.Apalagi yang di desa Masewo
sampai kalamanta lebarnya hanya 3M seharusnya 8M ungkap warga yang lain.
“Untuk itu kami sebagai warga
masyarakat Pipikoro mengharapkan perhatian penuh dari pihak pihak yang
berkepentingan dalam hal ini terutama pihak ke-3 yang mengerjakan pembukaan
jalan ini,agar kami bisa menggunakan dan mengangkut hasil bumi kami,kalau
pekerjaan begini bagaimana bisa ungkap warga.
‘Masa proyek 21 M hasilnya seperti
begini,seharusnya lebih bagus,jalannya makin lama makin kecil kalau di desa
Peana sampai di Banasu lebarnya 8M tapi dari Desa Banasu sampi Ke Kalamanta
tinggal 3 Meter,begitu juga dengan jembatan padahal ada di bangun jembatan kayu
untuk akses mobil tapi hanya sedikit di bikin jembatannya kata warga.
“Lebih bagus jalan yang dulu di
banding yang di kejakan saat ini,kalau dulu semua pendakian bisa di tempuh
dengan naik motor sedangkan yang sekarang sama sekali tidak bisa di lewati
pendakiannya,ada beberapa titik salah satunya pendakian dari air Mamu ke
kalamanta dan masih ada lagi titik lainnya.Jadi dalam hal ini masyarakat tidak
merasa puas dengan pembukaan jalan poros tengah pipikoro yang menelan anggaran
kurang lebih 21 M tahun lalu ini kata warga masyarakat. (dJ.S)

terimakasih,Salam dari Desa Onu
BalasHapus