Senin, 24 Oktober 2016

Desa Onu “Bangkit melangkah menuju Perubahaan Dan “Berbuat Baik Untuk Perubahan”




SIGI -Sejarah Dan Asal usul Desa Onu berasal dari bahasa UMA TOBAKU yang berarti “Asap Api”.Latar belakang terbentuknya Desa Onu,pada zaman Raja raja wilayah yang akhirnya disebut Desa Onu adalah Hutan bagian dari wilayah kerajaan (Maradika)Tobaku.Hutan Tersebut sangat strategis dijadikan sasaran para pemburu binatang liar seperti anoa,rusa,dan babi hutan.Suatu ketika Raja (Mardika) Tobaku memerintahkan para pemburu (seluruhnya)dari suku uma tobaku salah satunya bernama SEMPA untuk berburu dihutan tersebut.Lalu pemburu tersebut melakukan perintah dan setibanya dilikasi itu,mereka membakar dan melebur batu untuk dijadikan alat senjata berburu (Tombak).Asap api yang membakar batu itu menjadi tebal dan berfgumpal naik ke awan hingga terlihat dari daerah kerajaan (Mardika) yang lainnya sehingga asap tersebut menutupi hutan sekitar tempat ini.
Setelah sekian kalinya para pemburu tersebut berburu ditempat itu,mereka mulai mengenal bahwa wilayah itu sangat subur untuk di jadikan lahan kebun untuk ditanami tanam padi,jagung dan tanaman lainnya hingga mereka mendapat izin dari raja (Maradika) Tobaku untuk tinggal diwilayah itu,setelah mereka bertempat tinggal tetap lalu mereka memberi nama tempat itu ONU (Nara sumber) : Nta”a (alm) iniliah sekelumit sejarah yang di bacakan oleh Kepala Desa Onu Yonas T Roru
Saat ditemui media ini pekan lalu di di desa Onu Kecamatan Pipikoro Kabupaten Sigi Sulawesi Tengah N  Kades Yonas T Roru mengatakan batas desa kami berbatasan langsung dengan hutan adat,dan hasil utama kami hanya mengandalkan persawahaan yang tidak seberapa luas serta padi ladang yang luasnya kurang lebih lima hektar,ada juga penghasilan lain yakni coklat dan kopi kata Yonas.
Untuk itu saya sebagai Kades tetap menjalankan roda pemerintahaan sesuai dengan Visi,misi serta undang undang berlaku,harapan saya dengan Terpilihnya Bupati yang baru adalah “melangkah menuju perubahaan” Ungkap Yonas dengan nada positif.
Untuk Dana Desa (DD) dan ADD sampai saat ini sudah dijalankan yakni fisik Rabat jalan yang menghubungkan antar desa serta pekerjaan Deucker tegas Yonas.
Ditemui ditempat terpisah  sekdes Onu Meydarto mengatakan sebenarnya luas dari persawahaan sesungguhnya 197 Hektar tetapi yang tidak di lewati air atau menunggu tada hujan sekitar 70 Hektar,Penyebabnya karena Irigasi yang kami buat secara manual dengan memakai bambu dan memacul langsung sehingga tidak semua sawah teraliri kata Meydarto.
Ada tempat air atau pengairan tapi letaknya sangat jauh untuk kami berharap kepada pemerintah pusat dan daerah untuk memperhatikan kami di desa ini,dan kami sudah usulkan program masalah pengairan ini di BBJMD bahkan Musrenbang mudah mudahan bisa di sahuti oleh pemerintah,karena hal ini sudah lama saya ajukan Jelas Meydarto.
Dengan satu semboyan Kami “Bangkit melangkah menuju Perubahaan “Berbuat Baik Untuk Perubahan”(lompe Ta Babbehi Lompe Tarata) (Djoni Salumpana)
Gambar sisip 1
Kepala Desa Onu dan Warganya.


Desa Lone Basa Dusun Ntolumanu
Sigi-Indonesia Jaya-Desa Lonebasa  Kecamatan Pipikoro Kabupaten Sigi Sulawesi Tengah merupakan salah satu Desa yang yang memiliki tiga dusun dan memiliki 236 KK.Salah satu dusun adalah Ntolumanu yang memiliki 67 KK dengan jumlah penduduk dari bayi sampai orang tuanya berjumlah 235 Jiwa Hal ini di jelaskan oleh kepala dusun Ntolumanu Demas N lanca
“Jarak tempuh dusun Ntolumanu ke ibukota kecamatan sekitar 18 KM dan jalan yang dilewati sangatlah Extrim melewati tebing yang tinggi serta curam dan jembatan gantung sungai lariang yang sangat membahayakan” Kata Demas
“Hasil pertanian dan perkebunan hanya mengandalkan coklat sedangkan untuk makan hanya mengharapakan padi ladang itu pun kalau jadi,Selain padi Untuk makan mereka mengandalkan Jagung putih atau jagung pulut untuk di konsumsi sehari hari” ungkap Demas
Keluhan warga masyarakat  didesa ini sangatlah komplit terutama mengenai Air bersih,Mandi Cuci Kakus (MCK) ungkap  Papa Adi (So) salah seorang warga. 
Untuk berobat pun sangat jauh kami disini sangat membutuhkan Pusat Kesehatan atau pustu,disekolahpun tidaka ada kamar mandinya kata Paulus.
Dan selama kami berada di desa ini belum tersentuh bantuan  Bedah rumah sama sekali lanjut Sarkus.
Oleh karena itu kami sangat perlu mendapat perhatian dari Pemerintah Pusat dan Daerah maupun pemda setempat tutup kepala dusun.(Djoni Salumpana)

Gambar sisip 2
 warga desa Lonebasa Dusun Ntolumanu

Warga Pipikoro Mengeluhkan Jalan Poros Tengah,Peana-Kalamanta.
Sigi-Indonesia Jaya-Jalan Poros Tengah Kecamatan Pipikora yang Menghubungkan antara desa-desa di sekitarnya banyak di keluhkan oleh warga sekitarnya.Jalan yang yang di rintis mulai dari desa peana ibukota kecamatan Pipikoro sampai dengan Desa Kalamanta dengan melewati desa Pelempea,Mapahi,Banasu,Masewo dan mamu.
Rintisan Jalan poros tengah Pipikoro ini pernah di kerjakan oleh pihak ke tiga namun hasilnya “sangat Tidak memuaskan”.Dari hasil wawancara dengan Warga masyarakat di sekitar desa rata rata mengeluhkan pembukaan jalan baru tersebut.
Menurut warga setempat pekerjaan jalan ini tidak sesuai dengan apa yang pernah di survey dari pihak PU,Kalau Jalan yang di ukur pihak PU tujuannya supaya layak dipakai,bisa ditempuh kendaraan dan di lewati masyarakat.Tapi sekarang modelnya lain, karena mau cepat selesai, terpaksa mereka potong kompas sehingga mengurangi volumenya kata salah seorang warga yang tidak mau namanya di korankan.
“Yang terparah dan sama sekali tidak bisa di lewati oleh motor yakni mulai dari desa Banasu sampai dengan Kalamanta,jalannya tidak dilindas  Bomag.Apalagi yang di desa Masewo sampai kalamanta lebarnya hanya 3M seharusnya 8M ungkap warga yang lain.
“Untuk itu kami sebagai warga masyarakat Pipikoro mengharapkan perhatian penuh dari pihak pihak yang berkepentingan dalam hal ini terutama pihak ke-3 yang mengerjakan pembukaan jalan ini,agar kami bisa menggunakan dan mengangkut hasil bumi kami,kalau pekerjaan begini bagaimana bisa ungkap warga.
‘Masa proyek 21 M hasilnya seperti begini,seharusnya lebih bagus,jalannya makin lama makin kecil kalau di desa Peana sampai di Banasu lebarnya 8M tapi dari Desa Banasu sampi Ke Kalamanta tinggal 3 Meter,begitu juga dengan jembatan padahal ada di bangun jembatan kayu untuk akses mobil tapi hanya sedikit di bikin jembatannya kata warga.
“Lebih bagus jalan yang dulu di banding yang di kejakan saat ini,kalau dulu semua pendakian bisa di tempuh dengan naik motor sedangkan yang sekarang sama sekali tidak bisa di lewati pendakiannya,ada beberapa titik salah satunya pendakian dari air Mamu ke kalamanta dan masih ada lagi titik lainnya.Jadi dalam hal ini masyarakat tidak merasa puas dengan pembukaan jalan poros tengah pipikoro yang menelan anggaran kurang lebih 21 M tahun lalu ini kata warga masyarakat. (dJ.S)

1 komentar: