Heru Susanto Sekretaris DKR Tulungagung : Warga sudah bertahun-tahun mengeluh,tapi pedagang hanya mikir keuntungan saja,tetapi kesehatan orang-orang disekitar pasar diindahkan
TULUNGAGUNG - – Warga disekitar pasar ikan bandung Tulungagung Jawa Timur rupanya sudah tidak betah lagi dengan kondisi yang ada.Bau busuk yang diakibatkan oleh limbah ikan membuat banyak warga geram. Melalui DKR warga mengancam akan melakukan demo karena bau limbah yang sudah tidak bisa ditoleransi lagi.” Beberapa kali kami dibohongi mas,katanya akan menjamin jika bau sudah tidak ada lagi.” Terang Heru.
Selain itu disekitar pasar jelas sudah banyak warga yang terkena penyakit sesak,gatal yang diakibatkan oleh limbah.imbuhnya
Menurut Heru selama ini pedagang ikan hanya menyiram dengan air selesai melakukan aktifitasnya berjualan.Dan yang lebih aneh lagi,limbah cair yang didapat dari aktifitas itu hanya disedot dan dibawa keluar dari pasar menggunakan kendaraan milik pribadi,artinya warga tidak tahu kemana mereka membuang sehingga ini akan menimbulkan dampak lingkungan yang kurang baik ditempat lain.
“ Warga hanya mencari untung,tetapi tidak mempedulikan dampak dilingkungan,selain baunya yang menyengat,banyak warga yang terkena penyakit dan ini yang membuat warga geram,oleh karena itu jika tidak ada komitmen maka kami akan menuntut agar pasar itu ditutup dulu sampai ada solusi .” ancam Heru
Heru juga akan melakukan konfirmasi dengan Dinas Kelautan dan Perikanan ( DKP ) yang mana setahunya pernah ada anggaran untuk sarana dan prasarana pasar ikan Bandung ,tetapi berapa nilainya dan peruntukanya masih abu-abu
“Yang jelas DKP pernah mendapat anggaran untuk sarana prasarana mas,tetapi kenapa sampai saat ini urusan limbah masih belum teratasi,kami ingin menanyakan ke Dinas biar semua terang benderang,” tambah Heru
Seperti yang pernah diberitakan beberapa media bahwa limbah Ikan diPasar Bandung pernah menjadi sorotan beberapa LSM di Tulungagung.Hal ini karena bau busuk sungguh membuat warga tidak nyaman ,bahkan pedagang lain juga sudah beberapa kali meminta agar lokasi dipisah.Tetapi hingga kini semua itu hanya omong kosong.
Saat berita ini naik cetak,wartawan masih belum bisa melakukan konfirmasi kepada ketua paguyuban dikarenakan selalu menghindar jika ditemui awak media. (pheny)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar